4 Siasat Jaga Pengeluaran Saat Harga Daging Dkk Meroket

4 Siasat Jaga Pengeluaran Saat Harga Daging Dkk Meroket – Belakangan ini, harga banyak makanan naik, mulai dari daging sapi, kedelai, hingga paprika merah. Misalnya, harga daging sapi 130.000 rupee per kilogram, dibanding harga sebelumnya 110.000 kilogram.

4 Siasat Jaga Pengeluaran Saat Harga Daging Dkk Meroket

Sumber : cnnindonesia.com

marshallwharf – Padahal, pedagang daging sapi sudah mogok sejak kemarin (20/1) Rabu, meski mulai berdagang lagi hari ini. Kemudian karena kekurangan bahan baku kedelai, harga kedelai naik sekitar 25%.

Naiknya harga pangan pasti akan mengancam isi dompet kita. Selain itu, peningkatan bahan makanan merupakan konsumsi sehari-hari. Namun, pada komposisi makanan yang melonjak tinggi ini, ada banyak Siasat Jaga Pengeluaran Saat Harga Kebutuhan Meroket ,seperti yang dikutip dari cnnindonesia.com di bawah ini:

1. Efisiensi Konsumsi

Sumber : ceritawanitaid.wordpress.com

Perencana keuangan Tatadana Consulting Tejasari Asad mengatakan, solusi dasarnya adalah mengurangi konsumsi pangan yang mengalami kenaikan harga. Misalnya konsumsi daging sapi yang semula dua kali seminggu dikurangi menjadi seminggu sekali.

Karena itu, meski terjadi kenaikan harga, anggaran belanja masih mencukupi. Dalam keluarga, ibu rumah tangga sebagai bendahara keluarga dapat berinovasi membuat menu baru dengan menggunakan bahan makanan yang sama namun dalam jumlah yang lebih sedikit.

“Ada banyak cara. Misalnya kalau biasanya daging rendang dimasak bisa dipotong kecil-kecil untuk sop, jadi beli sedikit.”

Baca juga : 9 Fakta di Balik Pembunuhan Sekeluarga di Rembang

2. Makanan Substitusi

Sumber : grid.id

Tejasari masih berbicara tentang inovasi pangan, menurutnya masyarakat tidak salah untuk mencoba menu makanan baru untuk menggantikan bahan makanan yang mahal. Misalnya daging sapi diganti dengan ikan atau telur.

Toh, tingkat gizi makanan alternatif tersebut tidak jauh berbeda dengan daging sapi. Perencana keuangan konsultan Finlandia Eko Endarto setuju dan juga menyarankan masyarakat untuk mencari makanan alternatif untuk menghindari pemborosan uang.

Dia berkata: “Gantikan, gantikan, jadi tidak harus membeli barang itu, tapi menggantinya dengan barang lain.”

3. Buat Anggaran Belanja

Sumber : brainly.co.id

Strategi lainnya adalah dengan menetapkan anggaran di awal bulan. Tejasari mengatakan bahwa anggaran dapat membuat seseorang tidak bisa berbelanja sembarangan, sehingga pengeluaran memenuhi kebutuhan dan kemampuan finansial.

Ia mengatakan, dana belanja tersebut termasuk dalam belanja harian bersama dengan kebutuhan sehari-hari lainnya, seperti listrik, air, biaya sekolah anak dan lain sebagainya. Distribusi ideal pos pengeluaran rutin ini adalah 40% dari total pendapatan.

Ia berkata: “Oleh karena itu, kita harus mengatur pengeluaran rumah tangga kita sehari-hari. Tidak semuanya digunakan untuk berbelanja.”

Ia tidak hanya merekomendasikan pengaturan anggaran di awal bulan, tapi juga menganjurkan agar masyarakat (khususnya wanita) membuat daftar barang yang akan dibeli sebelum berbelanja. Lebih bagusnya lagi, jika pergi ke pasar untuk berbelanja sekali dalam seminggu, makanan akan disimpan di lemari es agar bisa bertahan selamanya.

Ia berkata: “Oleh karena itu, Anda tidak akan pergi ke supermarket karena ketika Anda pergi ke supermarket, barang yang biasanya terdaftar akan bertambah, seperti berbelanja dari tiga menjadi sepuluh barang.”

Di saat yang sama, Eko punya formula lain untuk alokasi anggaran belanja. Menurut dia, dana belanja tersebut merupakan sisa dana setelah memenuhi kebutuhan prioritas lainnya. Untuk detailnya, 30% pendapatan berasal dari hutang atau cicilan kredit, 10% dari investasi, dan 10% proteksi.

Dia menjelaskan: “Sisanya hanya bisa digunakan untuk berbelanja.”

Baca juga : 8 Ide Bisnis yang Patut di Coba di Era New Normal

4. Jangan Geser Anggaran Lain

Sumber : ekonomi.bisnis.com

Eko sangat mengimbau masyarakat untuk tidak menyesuaikan anggaran lain guna mengatasi kekurangan belanja harian akibat kenaikan harga pangan. Triknya adalah memulihkan dengan mengurangi atau mengganti makanan yang harganya melonjak.

Dia berkata: “Belanja pada dasarnya adalah konsumen, tidak wajib, dan dapat diganti.”

Menurutnya, dengan adanya makanan alternatif tidak ada alasan untuk menurunkan anggaran pos lainnya. Misalnya, kurangi uang tabungan bulanan atau investasi bulanan untuk bisa makan daging sapi. Eko juga melarang keras masyarakat meminjam untuk memenuhi kebutuhan belanja sehari-hari.

Dia berkata: “Biasanya orang akan menabung lebih sedikit. Mereka tidak akan menabung dulu bulan ini karena harga pangan telah naik. Sebenarnya, ini bisa dilakukan, tapi dari segi finansial, ini bukan langkah yang tepat.”

Di saat yang sama, Tejasari mengatakan bahwa beberapa pos anggaran mungkin perlu dipotong untuk meningkatkan anggaran pangan. Satu-satunya item pengeluaran adalah pengeluaran pribadi, seperti membeli pakaian, kosmetik, koper, dll.

Menurut dia, pengeluaran pribadi yang dialihkan ke anggaran makanan tidak akan mengganggu keadaan keuangan kita. Selama kita tidak memotong anggaran harian, seperti listrik, air, uang sekolah dan sebagainya.

Katanya: “Misalnya dengan membeli pakaian, perlengkapan mandi, kosmetik yang biasanya lebih mahal, kita bisa menghemat untuk membeli pakaian yang murah. Oleh karena itu, kita mencari (anggaran) yang bisa digunakan untuk makan.”