5 Profil Baru Direksi Lembaga Pengelola Investasi Indonesia

5 Profil Baru Direksi Lembaga Pengelola Investasi Indonesia – Presiden Jokowi secara resmi memperkenalkan jajaran Direksi Lembaga Pengelola Investasi (LPI) yang dikenal dengan Otoritas Investasi Indonesia (INA). Lembaga ini merupakan perwujudan pengelolaan dana kekayaan kedaulatan Indonesia (SWF).

5 Profil Baru Direksi Lembaga Pengelola Investasi Indonesia

Sumber : wartasambasraya.pikiran-rakyat.com

marshallwharf – Kelima pengurus INA yang diumumkan Presiden Jokovy di Istana Merdeka, antara lain Direktur Utama atau CEO Ridha Wirakusumah, Wakil Direktur Arif Budiman, Direktur Investasi Stefanus Ade Hadidjaja, Direktur Manajemen Risiko Marita Alisjahbana, dan Direktur Keuangan Eddy Porwanto ( Eddy Porwanto).

Berikut perkenalan Presiden Jokowi yang merupakan perkenalan singkat dan rekam jejak kelima direktur INA.

1. CEO/Direktur Utama INA Ridha Wirakusumah

Sumber : finance.detik.com

Presiden Jokowi secara resmi mengumumkan Susunan Dewan Pengawas dan Direksi Otoritas Investasi Indonesia (INA) secara lengkap pada Selasa (16/2) saat di kutip republika.co.

Ridha DM Wirakusumah, presiden dan direktur PT Bank Permata Tbk (BNLI), menjadi presiden LPI (juga dikenal sebagai dana kekayaan negara Indonesia).

Jadi siapakah Ridha DM Wirakusumah? Berbicara mengenai laporan tahunan Bank Permata (BNLI), Ridha bekerja di Citibank sebagai vice president Citibank Jakarta Corporate Banking sejak tahun 1987 hingga 1993.

Ia juga pernah menjabat sebagai kepala bagian keuangan perusahaan di Jakarta Bank Trust Company (1993-1995).

Setelah bergabung dengan Bankers Trust, Ridha melanjutkan karir profesionalnya, menjabat sebagai Presiden dan CEO Wilayah Asia Pasifik di General Electric Consumer Group Company dari tahun 1995 hingga 2006.

Kemudian pada tahun 2006-2008, Ridha menjadi CEO AIG Consumer Finance Cabang Hong Kong.

Setelah bekerja di AIG selama dua tahun, Ridha bergabung dengan Khasanah Malaysia yang kemudian mengakuisisi PT Bank Internasional Indonesia Tbk. (BNII) dari Temasek Singapura.

Dua tahun kemudian, Ridha menjabat sebagai presiden Hong Kong Kohlberg Kravis Roberts (KKR) dari 2011 hingga 2014.

KKR adalah perusahaan investasi. Di Indonesia, KKR telah mendaftarkan saham PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA) yaitu pabrik Sari Roti yaitu PT Nippon Indosari Corpindo Tbk. (ROTI), berinvestasi di PT Aplikasi Karya Anak Bangsa (Go-Jek) dan menjadi pembeli margarin pita biru Unilever (UNVR).

Dari 2014 hingga 2016, Ridha menjadi mitra pengelola dari perusahaan investasi lain DNB Consulting and Investments Hong.

Di perusahaan ini, Ridha juga merupakan perwakilan perusahaan PT Austindo Nusantara Jaya Tbk (2014-2016), anggota komite Postcard and Tag Hong Kong (2015-2016) dan PT Bayan Resources (2016).

Selain DNB, pemilik Bachelor of Science (1985) dan Master of Business Administration (1987) dari Universitas Ohio ini kemudian berlabuh di Bank Permata (BNLI) dan memimpin operasional penjualan perusahaan.

Baca juga : Dampak Pandemi Covid-19 pada Sektor Ketenagakerjaan Indonesia

2. Wakil Dirut INA Arif Budiman

Sumber : nkriku.com

Presiden Jokowi (Jokowi) mengumumkan pada Selasa (16/2/2021) jabatan anggota Dewan Pengawas dan Direksi Otoritas Investasi Indonesia (INA).

Salah satu pejabat yang ditunjuk adalah mantan pengendali keuangan PT Pertamina (Persero) Arief Budiman. Ia lulusan S1 Jurusan Teknik Industri Institut Teknologi Bandung (ITB) dan merupakan mahasiswa terbaik.

Ia melanjutkan studinya dan menerima gelar Master of Business Administration (Hons) dari Wharton School of University of Pennsylvania.

Memulai karirnya pada tahun 1997 ketika bekerja untuk Booz Allen & Hamilton, sebuah perusahaan konsultan, dan kemudian masuk ke Asia pada tahun 2001 sebagai orang Asia bernama Merryl Lynch (Summer Advisor of Investment Banking).

Orang ini lahir pada tahun 1974. Ia juga pernah menjabat sebagai Business Director Booz Allen & Hamilton (Assistant) (2003-2004) dan PT McKinsey Indonesia (2004-2014) di Amerika Serikat. Ia juga tercatat sebagai tim yang menyusun konsep tersebut. Pembentukan dana kekayaan kedaulatan Indonesia.

Selama menjabat sebagai Chief Financial Officer Pertamina, beliau memimpin berbagai pekerjaan di bidang omset dan efisiensi, serta menerima penghargaan dari banyak institusi dalam dan luar negeri.

Pada posisi terakhirnya di sebuah perusahaan milik negara, ia diangkat sebagai direktur utama Danareksa.

Di sana ia bekerja dengan investor strategis internasional di bidang teknologi keuangan, layanan keuangan, dan infrastruktur. Pada Oktober 2020, posisinya dicopot oleh Menteri BUMN Erick Thohir.

3. Direktur Investasi INA Stefanus Ade Hadidjaja

Sumber : endeavorindonesia.org

Stefanus adalah seorang ahli yang terkenal, memiliki karir profesional di kalangan praktisi investasi, dan telah menjabat sebagai konsultan internasional, CEO, dan pengalaman komite investasi di banyak perusahaan multinasional.

Jokowi berkata: “Dia pernah menjabat sebagai direktur pelaksana dan direktur negara Indonesia dan Singapura, dan kepala layanan regional untuk IBM Indonesia.”

4. Direktur Pengelolaan Risiko INA Marita Alisjahbana

Sumber : cnnindonesia.com

Marita Alisjahbana resmi ditunjuk sebagai Direktur Risiko di Lembaga Pengelola Investasi (LPI) atau Indonesia Investment Authority (INA). Presentasi Dewan Pengawas dan Direksi LPI dilaksanakan pada Selasa (16/2/2021) di Istana Kemerdekaan Jakarta Pusat.

Diangkat bersama pengurus LPI lainnya sebagai Ridha DM Wirakusumah (Direktur Utama PT Bank Permata Tbk / BNLI) sebagai CEO, Arief Budiman sebagai Wakil Ketua Dewan / Direktur Investasi, Stefanus Ade Hadiwidjaja sebagai Direktur Investasi, Eddy Porwanto sebagai Direktur Keuangan.

Presiden Joko Widodo mengatakan, lembaga pengelola investasi atau INA memiliki posisi strategis yang sangat penting dalam percepatan pembangunan berkelanjutan, peningkatan dan optimalisasi nilai kekayaan negara dalam jangka panjang. Melalui kanal YouTube Sekretariat Presiden, Jokowi berharap LPI bisa menjadi seperti lembaga serupa di banyak negara lain.

Marita menamatkan pendidikan di Los Angeles

Marita lulus dari Institut Teknologi Bandung pada tahun 1982 dengan gelar sarjana arsitektur. Dia kemudian melanjutkan untuk mengejar gelar master di University of California, Los Angeles, dan lulus pada tahun 1986.

Marita berpengalaman di bidang manajemen risiko lebih dari 30 tahun

Meski lulus dari jurusan arsitektur, Marita memiliki pengalaman lebih dari 30 tahun di bidang manajemen risiko. Menjabat sebagai country and corporate risk manager Citibank Indonesia selama 15 tahun.

Marita juga merupakan warga negara Indonesia pertama yang memegang posisi ini dalam sejarah. Selain itu, beliau pernah menjabat sebagai country and corporate risk manager untuk Citibank Thailand, Vietnam dan Filipina.

Jokowi sebut LPI akan menjadi mitra strategis bagi para investor

Jokowi mengatakan Indonesia akan mempersempit kesenjangan antara kapasitas pendanaan dalam negeri dan kebutuhan pendanaan pembangunan. LPI nantinya akan menjadi mitra strategis investor.

Jokowi mengatakan: “INA akan menjadi mitra strategis bagi investor dalam dan luar negeri untuk membahas secara penuh rencana pembangunan, khususnya pembangunan infrastruktur nasional.”

Baca juga : 5 Pernyataan Moeldoko atas Tudingan AHY Terkait Isu Kudeta Partai Demokrat

5. Direktur Keuangan INA Eddy Porwanto

Sumber : bumninc.com

Presiden Jokowi resmi menunjuk Eddy Porwanto Poo sebagai salah satu direktur Lembaga Manajemen Investasi (LPI). Eddie akan menjabat sebagai ketua pengawas keuangan lembaga manajemen investasi donasi terbesar negara (SWF).

Eddy terpilih menjadi Direksi SWF oleh Ridha DM Wirakusumah, Arief Budiman, Marita Alisjahbana dan Stefanus Ade Hadiwijaya.

Mereka akan menjadi panitia pengawas (Sri Mulyani, Menteri Keuangan, Erick Thohir, Menteri BUMN) dan tiga panitia yang terdiri dari para profesional (Darwin Cyril Noerhadi), Yuzua Makes dan Haryanto Sahari).

Sebelum terpilih menjadi jajaran direksi SWF, Eddy pernah menjabat sebagai Direktur PT Delta Dunia Makmur Tbk. Sejak Juni 2014, ia menjabat sebagai penerbit kode DOID.

Di tahun yang sama, Eddy juga menjabat sebagai komisaris PT Bumi Makmur Mandiri Utama Tbk atau BUMA. Ini adalah perusahaan yang terkait dengan Delta Dunia Makmur.

Selain BUMA, Eddy juga menjabat sebagai komisaris PT Tugu Pratama Indonesia Tbk sejak 2013. Sebelum Delta Dunia Makmur, Eddy menjabat sebagai komisaris independen dan chief financial officer di PT Gaurda Indonesia Tbk.

Saat maskapai nasional dipimpin oleh I I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra, ia menjabat sebagai komisaris independen pada tahun 2019. Sementara saat dipimpin oleh Emirsyah Satar, Garuda menjabat sebagai direktur keuangan.

Di antara pengalaman lainnya, Eddy menjabat sebagai Director of Operations di Northstar Pacific Capital. Dia juga direktur Archipelago Resources Plc. Managing Director PT Meares Soputan Mining dan PT Tambang Tondano Nusajaya.

Ada beberapa perusahaan lain yang masuk dalam daftar portfolio, antara lain PT BAT Indonesia, PT General Motors Indonesia, PT GM Autoworld dan PT Reckitt Benckiser Indonesia. Secara keseluruhan, karirnya telah berkecimpung di bidang keuangan dan korporasi selama lebih dari 25 tahun.

Pendidikan terakhirnya adalah dalam administrasi bisnis di University of Illinois di Amerika Serikat. Ia memperoleh gelar master dari negeri Paman Sam.